Minggu, 22 Mei 2011

PRINSIP-PRINSIP DASAR KEPENDIDIKAN


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di dalam era dunia yang semakin maju ini sangatlah dibutuhkan orang-orang yang memiliki wawasan serta keterampilan yang unggul baik dari segi kehidupan dunia maupun akhirat. Dalam membentuk alumni yang tangguh dan terampil diperlukan pendidikan yang benar-benar memiliki program dan kompetensi yang baik pula. Dalam penerapannya sangat di anjurkan untuk memberikan pendidikan agama sebagai pegangan ketika sudah terjun ke dunia kerja.
Seorang pendidik tidak hanya menerapkan kurkulum yang semestinya diajarkan, namun harus memiliki pengetahuan terutama tentang prinsip-prinsip dasar pendidikan. Hal ini diperlukan karena agar mampu memahami keadaan peserta didik. Ketika semua bisa diterapkan dan didapatkan suatu hasil tentang keadaan peserta didik, maka dapat dirancang sebuah kurikulum baru yang masih berdasarkan kurikulum sebelumnya dan lebih disempurnakan. Sehingga akan diperoleh hasil yang memuaskan. Seorang pendidik yang tidak mengetahui dan memahami prinsip-prinsip dasar pendidikan, maka akan banyak terkendala masalah penerimaan materi oleh peserta murid dan pada akhirnya sulitnya tercapai tujuan dari pendidikan itu sendiri.

B. Rumusan Masalah
Prinsip-prinsip apa sajakah yang harus diketahui dalam Dasar-dasar Pendidikan?
Hal-hal yang bagaimanakah yang mampu mendukung dalam suksesnya tujuan pendidikan ?
Apa sajakah hal-hal yang terlibat dalam prinsip-prinsip tersebut ?
Apakah yang dimaksud dengan:
-          Prnsip Relevasi,
-          Prinsip efektifitas,
-          Prinsip Efisiensi,
-          Prinsip Kontinyuitas, dan.
-          Prinsip Fleksibilitas . . .?

C. Tujuan Pembahasan
Dengan adanya pembahasan mengenai “Prinsip-prinsip Dasar Pendidikan” diharapkan mahasiswa mampu memahami dan menerapkan dalam dunia pendidikan baik sebagai peserta didik maupun sebagai pendidik. Hal ini sangatlah penting difahami terutama bagi mahasiswa yang mengambil jurusan akademik pendidikan agar menjadi bekal awal dalam mengaplikasikan didalam dunia kerja yang akan datang.
Sebagai seorang mahasiswa diharapkan lebih kreatif dan inovatif menggali berbagai ilmu pengetahuan, terutama mata kuliah Dasar-dasar Pendidikan supaya memiliki suatu acuan ketika nanti diperjalanan dalam proses mendidik.
Selain itu Mahasiswa tetap istiqomah dalam menerapkan ilmu ini dengan tetap memperhatikan berbagai kemungkinan sehingga dapat mengetahui gambaran tentang berbagai hal yang menyangkut masalah pendidikan. Dengan demikian artinya dapat memacu sebuah pembaruan kurikulum pendidikan yang lebih efisien yang bisa membantu dalam menggapai tujuan dari pendidikan di masa yang akan datang.










                                                         BAB II                                     
PEMBAHASAN

A. Pengertian Prinsip
Prinsip adalah pegangan hidup yang diyakini mampu seseorang mampu membantu dirinya mencapai tujuan hidup yang dia inginkan atau programkan.
Prinsip akan hancur jika ada unsur-unsur luar yang tidak sehaluan dengan tujuannya ikut dicampur adukkan, selalunya unsur tersebut berwujud emosi. Contohnya, seseorang memiliki prinsip menegakkan keadilan walau apapun yang dihadapi, tapi dalam prosesnya, di 'cemari' dengan rasa iba dan kata maaf sehingga hilanglah keadilan, terhentilah prinsip mencari keadilan.
Contoh lain, seorang pemimpin yang gagal memimpin anggotanya dan melanggar prinsipnya sendiri, ingin memperbaiki anggotanya tetapi jika anggotanya ingin memperbaiki komunitas dan pemimpinnya malah ditolak mentah-mentah. Ingin mengganti pemimpin orang lain tapi tidak mau jika pemimpinnya diganti. Mau mengusir para penggila jabatan, tapi malah menjadi orang yang gila jabatan, hilanglah keadilan, tercemarlah prinsipnya.
Kata maaf dan ikatan emosi lain seharusnya dipisahkan dari proses penegakkan keadilan dan prinsip. Kata maaf dan ikatan emosi lainnya memang bagus, tetapi keadilan dan prinsip tidak boleh terpengaruh, itulah KONSISTENSI.
Dalam melaksanakan pendidikan, ada beberapa prinsip dasar yang harus diperhatikan agar hsil (output) betul-betul sesuai dengan apa yang diharapkan oleh semua pihak. Baik sekolah, murid-murid peserta didik, orang tua siswa, daPrinsip adalah pegangan hidup yang diyakini mampu seseorang mampu membantu dirinya mencapai tujuan hidup yang dia inginkan atau programkan.
Prinsip akan hancur jika ada unsur-unsur luar yang tidak sehaluan dengan tujuannya ikut dicampur adukkan, selalunya unsur tersebut berwujud emosi. Contohnya, seseorang memiliki prinsip menegakkan keadilan walau apapun yang dihadapi, tapi dalam prosesnya, di 'cemari' dengan rasa iba dan kata maaf sehingga hilanglah keadilan, terhentilah prinsip mencari keadilan.
Contoh lain, seorang pemimpin yang gagal memimpin anggotanya dan melanggar prinsipnya sendiri, ingin memperbaiki anggotanya tetapi jika anggotanya ingin memperbaiki komunitas dan pemimpinnya malah ditolak mentah-mentah. Ingin mengganti pemimpin orang lain tapi tidak mau jika pemimpinnya diganti. Mau mengusir para penggila jabatan, tapi malah menjadi orang yang gila jabatan, hilanglah keadilan, tercemarlah prinsipnya.
Kata maaf dan ikatan emosi lain seharusnya dipisahkan dari proses penegakkan keadilan dan prinsip. Kata maaf dan ikatan emosi lainnya memang bagus, tetapi keadilan dan prinsip tidak boleh terpengaruh, itulah KONSISTENSI.

B. Pengertian Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.
Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.
Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan.
Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan.
Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan.
Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.
Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.
Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi, informasi, dan media lain.
Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan potensi masyarakat.

C. Prinsip-prinsip Dasar Pendidikan

Dalam usaha melaksanakan pendidikan, ada beberapa prinsip dasar yang harus diperhatikanagar hasil betul-betul sesuai dengan apa yang diharap oleh semua pihak. Baik sekolah, murid-murid peserta didik, orang tua sisiwa, dan masyarakat maupun pemerintah. Untuk mencapai itu ada beberapa prinsip dasar utama yang harus diperhatikan, antara lain:

1. Prinsip Relevansi
Secara umum istilah relevansi pendidikan dapat diartikan sebagai kesesuaian atau keselarasan pendidikan dengan tuntutan masyarakat. Hasil pendidikan dapat di artikan relevan apabila berguna atau berfungsi bagi kehidupan, baik dilingkungan anak didik, perkembangan kehidupan yang sekarang atau yang akan datang, maupun relevansinya dengan tuntutan dalam dunia pekerjaan yang dibutuhkan oleh pemerintah, perusahaan, dan masyarakat.
1) relevansi dengan Lingkungan Hidup Anak Didik
Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, seorang guru, ketika menetapkan materi pelajaran hendaknya memperhatiakan sejauh mana kesesuaian materi tersebut terhadap kehidupan nyata yang di alami peserta didik. Untuk sekolah- sekolah yang ada dipedesaan, kurang tepat apabila disediakan bacaan- bacaan yang banyak menggambarkan kehidupan dikota- kota besar, seperti kemacetan lalu lintas, gedung- gedung bertingkat dan toserba.
2) Relevasi Dengan Perkembangan Kehidupan Sekarang dan Yang Akan Datang
Selain mempertimbangkan lingkungan hidup anak didik, perlu diperhatiakan juga perkembangan yang terjadi dalam kehidupan nyata masa sekaraang maupun yang akan datang, sebab alat atau tatacara yang digunakan pada masa lampau belum tentu masih cocok dengan masa sekarang. Untuk mengatasi situasi ini, maka dalam merencanakan program pendidikan harus disesuaikan dengan perkembangan yang sekarang dan yang akan datang.
3) Relevansi dengan Tuntutan dalan Dunia Pekerjaan
Apabila kegiatan sekolah atau lembaga penyelenggaraan  pendidikan  tidak disesuaikan dengan lapangan yang ada sekarang, maka para lulusan akan kesulitan dalam mencari pekerjaan. Sebagai contoh, bagaimana jika seorang sisiwa SMK tidak mengenal cara mengoprasikan komputer.

2. Prinsip Efektivitas
Efektivitas adalah suatu keadaan yang menunjukkan keberhasilan dari rencana yang sudah dibuat. Semakin banyak rencana tercapai, menandakan semakin efektif kegiatan tersebut. Dalam bidang pendidikan efektifitas terbagi menjadi dua, yaitu:
1) Efektivitas guru mengajar
Efektifitas guru mengajar menyangkut masalah jenis- jenis kegiatan pembelajaran yang dapat dicapai. Untuk meningkatkan mutu pendidikan disekolah nasib para guru dan penambahan pengetahuannya harus benar-benar diperhatiakan.
2) Efektifvitas Murid belajar
Efektivitas murid belajar adalah yang menyangkut tujuan-tujuan pelajaran yang telah direncanakan pihak pendidik. Untuk meningkatkan efetivitas murid belajar dapat dilakukan dengan metode dan alat yang dipandang sesuai pelajaran yang diberikan.

3. Prinsip Efisiensi
Efisiensi adalah keadaan yang menunjukkan perbandingan antara hasil yang diperoleh dengan usaha yang telah dikeluarkan. Jika hasil yang diperoleh lebih kecil dari usaha yng dikeluarkan, maka kegiatan tersebut dipandang tidak efisien.
Pada mulanya istilah efisien ini digunakan dalam bidang bisnis dalam melihat laba dan rugi. Tetapi dalam pendidikan prinsip efisiensi adalah perlunya memperhatiakan masalah waktu,tenaga, peralatan, yang pasti akan mempengaruhi efisiensi biaya yang dikeluarkan untuk proses pembelajaran tersebut.
                                        

4) Prinsip Kontinyuitas
Kontinyuitas adalah kesinabungan yang terus-menerus.  Maksudnya adanya saling hubungan atau jalinan antara berbagai jenis dan jenjang pendidikan, antara lain:
1) Kontinyuitas antara berbagai tingkat pendidikan.
Dalam menjalankan program pendidikan di sekolah herus dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a. Sebagian materi pelajaran yang diperlukan untuk tingkat sekolah yang berikutnya hendaknya sudah diajarkan pada tingkat sekolah sebelumnya, sehingga terjadi kesinambungan yang serasi.
b. Bahan ajar yang sudah diberikan pada tingkat sekolah yang lebih rendah perlu dipertimbangkan lagi apa masih perlu diajarkan pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
2) Kontinyuitas antara berbagai bidang studi.
Bahan yang diajarkan antaraberbagai bidang studi sering mempunyai hubungan satu dengan yang lainnya, sehubungan dengan itu, maka urutan berbagai bidang studi hendaknya diusahakan sedemikian rupa agar hubungantersebut dapat terjalin dengan baik.

5. Prinsip Fleksibilitas
Fleksibilitas artinya luwes atau tidak kaku. Dalam pendidikan arti fleksibilitas adala adanya suatu runag gerak yang menberikan sedikit kebebasan dalam bertindak baik oleh pendidik ataupun anak didik.
Fleksibilitas ini ada dua, yaitu:
1) Fleksibilitas Murid
Fleksibilitas murid adalah cara dalam memilih program, yaitu dalam bentuk pengadaan jurusan atau program yang dapat dipilih oleh murid berdasarkan kemampuan dan minatnya.
2) Fleksibilitas Guru
Fleksibilitas bagi guru, yaitu dengan cara memberikan kebebasan pada guru untuk mengembangkan sendiri program-program pengajaran dengan berpedoman pada tujuan dan bahan pegajaran yang terdapat dalam kurikulum.







BAB III
PENUTUPAN

A. Kesimpulan
Dalam melaksanakan pendidikan, ada beberapa prinsip dasar yang harus diperhatikan agar hsil (output) betul-betul sesuai dengan apa yang diharapkan oleh semua pihak. Baik sekolah, murid-murid peserta didik, orang tua siswa, dan masyarakat maupun pemerintah. Untuk mencapai itu ada beberapa prinsip dasar utama yang harus diperhatikan, antara lain:
-          Prnsip Relevasi,
-          Prinsip efektifitas,
-          Prinsip Efisiensi,
-          Prinsip Kontinyuitas, dan.
-          Prisip Fleksibilitas.

Prinsip-prinsip diatas haruslah diketahui dan diterapkan dengan baik agar semua sisitem dan komponen-komponen dalam pendidikan mampu beroprasi dan bergerak secara teratur sehingga tujuan dan harapan pendidikan itu sendiri dapat tercapai dengan baik.



B. Saran dan Kritik
Dalam berusaha melengkapi makalah ini, tentu ada sesuatu yang kurang dan kami sebagai penulis baik dari pembahasan ataupun dari segi tulisan menyadari akan hal demikian. Maka dari itu kami akan berusaha lebih baik dengan selalu mengedapankan sumber-sumber yang lebih layak sebagai reverensi.
Kami sangatlah mengharapkan masukan baik berupa kritik ataupun saran sehingga dapat menjadi sebuah instropeksi dari karya kami juga sebagai semangat dan landasan baru untuk terus berinovasi dalam berkarya.
“Tiada ada yang sempurna, bila ketidak sempurnaan tak pernah ditemui dan disadari.”
Walaupun demikian, kami sangat berharap karya ini dapat menjadi salah satu acuan dalam pembelajaran terutama sebagai reverensi untuk dalam mata kuliah Dasar-dasar Pendidikan.





























DAFTAR PUSTAKA


Ali, Kemas Mas’ud. Diktat Dasar-dasar Pendidikan. STAIN Bengkulu. Bengkulu. 2008.
Ekosusilo, Madyo dan Kasihadi. Dasar-dasar Pendidikan. Effhar Publishing. Semarang.  1993.
Ihsan, Fuad. Dasar-dasar Kependidikan. Rineka Cipta. Jakarta. 2003.
Hasbullah. Dasar-dasar ilmu Kependidikan. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 2001.
http://peperonity.com/go/sites/mview/syahran7/11739096
http://www.kemdiknas.go.id/media--publik/daftar-istilah.aspx

ALIRAN QODARIYAH DAN JABARIYAH

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam membentengi diri dari berbagai pengaruh negative di zaman yang maju ini banyak sekali berbagai paham yang bermunculan, baik dari segi politik, budaya, ilmu pengetahuan bahkan di dalam agama, khususnya Agama Islam. Kehidupan yang demikian akan banyak menimbulkan banyak permasalahan yang komplek serta rumit dan bersifat fatal karena berhubungan dengan integrasi di dalam masyrakat.
Salah satu tujuan pembahasan ini ialah memberikan pemahaman dan pengetahuan bagi mahasiswa atau umum untuk lebih menerapkan asas toleransi dan simpati terhadap perbedaan mashab yang sering dijumpai di sekitar kehidupan bersosial. Tentu dalam hal ini memiliki batasan-batasan tertentu yang menjadi landasan memberikan toleransi dan empati, yaitu ketika dijumpai suatu faham yang tidak sesuai dengan Al-Quran dan Assunnah, maka  hal ini perlu diadakan penangan lebih lanjut.
Hal demikian sangat perlu dilakukan agar umat Islam tidak terjerumus dalam sebuah kesesatan yang fatal, lebih-lebih menganggap benar hal-hal yang salah dan bertentangan dengan kaidah hukum Islam yang dibawa oleh Rosul terakhir, Muhammad SAW.
Pada saat ini banyak dijumpai aliran-aliran atau faham-faham yang dibuat orang muslim namun bertentangan dengan Islam yang hakiki. Seperti aliran Islam Ahmadiyah yang mengangap  ada rosul setelah Muhammad. Mereka percaya dan yakin bahwa orang kafir benama Ahmad Gulam Mirja adalah nabi terakhir yaitu nabi ke dua puluh enam. Dan masih banyak lagi contoh lainnya yang ada di Indonesia ini.
Hal diatas sangatlah fatal dan berbahaya bagi umat Islam yang memiliki Iman dan pengetahuan tentang Islam yang kurang dan lebih-lebih tidak ada kemauan untuk menggali dan
Pembahasan ini juga akan memberi suatu konstribusi bagi pengetahuan pembaca agar lebih selektif dan berhati-hati dalam menentukan segala hal yang berkaitan dengan keyakinan atau keimanan, khususnya dalam hal teologi.
Mengacu pada hal diatas maka karya tulisan ini dibuat agar dapat menjadi salah satu sumber yang menyumbang dalam menegakkan suasana Islam yang hakiki sesuai dengan Risalah yang di emban oleh Rosulullah agar kita menjadi pewaris yang teteap istiqomah dijalan Allah yang lurus dan penuh cahaya keridoan-Nya ini.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari Aliran Qodariyah dan Aliran Jabariyah  tersebut ?
2.  Bagaimanakah sejarah dari kedua aliran tersebut ?
3. Bagaimanakah pola pemikiran yang diyakini masing-masing aliran tersebut  ?
4. Bagaimanakah status kedua aliran  tersebut, sesatkah  ?
5. Siapakah tokoh-tokoh pendirinya ?

C. Tujuan
Dengan hasil karya tulisan ini diharapkan Mahasiswa dapat menjelaskan dan menguraikan pengertian dari aliran Qodariyah dan Jabariyah secara Etimologi ataupun secara Terminologi. Mengetahui bagaimana sejarah kemunculan dari aliran-aliran tersebut dengan memperhatikan dari segi konsep penetahuan yang luas. Dapat menjelaskan tentang bagaimana pola pikir yang diyakini oleh masing-masing aliran. Mampu mengidentifikasikan tentang hukum dari kedua aliran tersebut. Dan mengetahui tokoh-tokoh pendiri yang berperan penting dalam munculnya aliran-aliran tersebut. Serta diharapkan lebih lanjut agar Mahasiswa dapat mencari reverensi lainnya sebagai suatu usaha untuk menambah pengetahuan tentang keadaan umat saat ini.
 Sebab dengan membandingkan hal-hal demikian dapat memberikan suatu asumsi yang baik dan menjadikan diri lebih hati-hati dalam melaksanakan ibadah. Suatu ibadah harus sesuai dengan yang diajarkan Rosulullah sehingga suatu ibadah mendapat jalan untuk dapat di terima sebagai amalan yang akan membela diri di Yaumul Akhir nanti. Amin ya Rabbal Alamin.


















BAB II
PEMBAHASAN

A. ALIRAN QODARIYAH

A. Pengertian
Qodariyah berasal dari bahasa arab,yaitu dari qadara yang artinya kemampuan dan kekuatan.[1] Adapun menurut pengertian terminologi, Qodariyah adalah satu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak di intrevensi oleh Tuhan. Aliran ini berpendapat bahwa tiap- tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya. Ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendak sendiri.[2] Berdasarkan pengertian tersebut bahwa nama Qodariyah digunakan untuk menyebut suatu aliran yang memberi penekanan atas kebebasan dan kekuatan manusia dalam mewujudkan perbuatan- perbuatannya. Dalam hal ini, Harun Nasution menegaskan bahwa kaum Qodariyah berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia tunduk pada qadar Tuhan.[3]
B. Sejarah Qodariyah
Latar belakang timbulnya qodariyah ini sebagai isyarat kebijaksanaan politik Bani Ummayah yang di anngapnya kejam.
Tak dapat di ketahui pasti, paham ini timbul dalam sejarah perkembangan teologi islam,tapi menurut keterangan ahli teologi islam, di timbulkan oleh Ma’Abad al-jauhani dan temannya Ghailan al- Dimasyqidi irak, Ma’abad adalah seorang seorang tabi’I yang baik tetapi ia memasuki lapangan politik dan memihak Abd al-Rahman ibn al – Asy’as, gubernur Sajistan, dalam menentang kekuasaan bani Umayyah. Dalam pertempuran al- Hajjaj Ma’Bad mati terbunuh dalam tahun 80 H.
C. I’TIQAD kaum Qadariyah yang bertentangan dengan Ahlussunah Waljamaah
 Kaum qodariyah beri’tiqad bahwa perbuatan manusia di ciptakan oleh manusia sendiri dengan qodrat yang telah di berikan Tuhan kepadanya sedari mereka lahir ke dunia.
Kaum Qodariyah mengemukakan dahlil-dahlil ‘akal dan dahlil-dahlil naqal (Quran dan hadist) untuk memperkuat pendirian mereka, mengapa mereka di beri pahala kalau berbuat baik dan di siksa kalau berbuat maksiat, pada hal yang membuat atau menciptakan hal itu adalah Allah swt, dan mereka juga mengatakan kalau Tuhan itu tidak adil.

Beberapa dahlil yang di kemukakan oleh kaum Qodariyah tanpa memperhatikan tafsir-tafsir nabi dan sahabat nabi ahli tafsir.
“Bahwasannya  Allah  tidak bisa merubah  nasib suatu kaum, kalau tidak mereka sendiri yang merubahnya.” (Ar-Ra’d; 11).
Kaum Qodariyah menyatakan pada ayat tadi bahwa Tuhan “ Tidak Bisa” atau “Tidak Kuasa” merubah nasib manusia kecuali mereka sendiri yang merubahnya.
Nampak jelas sekali bahwa kepercayaan kaum Qodariyah ini sama dengan kaum Mu’ tajillah, hanya perlainannya kaum Mu’tajzillah mengatakan “ Bahwa pekerjaan Manusia yang baik di jadikan Tuhan”. Sedangkan kaum Qodariyah “ baik dan buruk tidak di jadikan oleh tuhan”.
Fatwa kaum Qodariyah di Mu’tajzillahini tidak sesuai dan di tentang oleh Ahlusunah waljama’ah, yang di imami oleh Imam Abu Hasan Al-Asy’ari,
Kaum Ahlussunnah mengemukakan, Tuhan berfirman dalam Al-Quran :

“Dan Tuhan yang menjadikan kamu dan apa- apa yang kamu kerjakan” (As-shaffat : 96).
Terang bahwa dalam ayat ini yang menjadikan mausia dan yang menjadikan pekerjaan manusia adalah Tuhan, Bukan manusia. Jadi takdir sudah tertulis dalam izal sebelum manusiadilahirkan.

“Dan tidak bisa kamu menghendaki, kecuali kalau Tuhan menghendaki” (Ali Imran : 30).
Takdir Ilahi itu menurut Ahlusunnsah wal jamaah ada 4, yaitu :
1. Takdir dalam ilmu Tuhan tidak berubah-ubah  lagi
2. Takdir yang di tuliskan pada luh Mahfuzh ini bisa berubah kalau  Tuhan menghendaki.
3. Takdir dalam rahim ibu itu sesuai dengan  luh mahfuzh.
4. Takdir dalam kenyataan, yakin di jadikan sesuatu dalam  kenyataanya menurut takdir yang telah di tetapkan.

Dalil-dalil yang di majukan oleh kaum Qodariyah sangat bertentangan bahkan tidak tepat. Arti yang di kemukakan pada ayat ke-2 surat Ar Ra’ad itu jelas-jelas salah, bahwa yang         benar,
“Bahwasannya Tuhan tidak mengambil nikmat yang telah di berikan-Nya kepada manusia, kecuali kalau mereka sudah merubah, yakni dari tha’at menjadi durhaka”

Contoh :
Tuhan telah memberi banyak sekali nikmat, kalau dengan nikmat ini kita berfoya-foya, membuat segala macam dosa maka anugrah ini akan di ambilnya. Inilah janji Tuhan.
Qodariyah ini di pelopori oleh Ma’bah Al-Jauhani Al-bisri di tanah Irak. Beliau juga sebagai seorang yang alim juga tentang Al-Quran dan Hadist, tetapi kemudian ia menjadi sesat dan membuat pendapat-pendapat yang salah serta batal. Tetapi ia di bunuh oleh Abdul Malik bin Marwan dan di sulakan di Damsyik tahun 80 H.
Pendapat yang batal sebagai berikut:
Bahwasanya Allah SWT. Tidak mengetahui segala apa juapun yang di perbuat oleh manusia, dan tidak pula yang di perbuat oleh manusia itu dengan Qudrat dan Iradat Allah SWT.
Bahkan manusialah yang mengetahui serta mewujudkan segala yang di amalkannya, itu dan semuanya dengan diqodrat iradat manusia sendiri, Tuhan sama sekali tidak campur tangan di dalam pembuktian amalan-amalan itu.
Kaum Muslimin sudah semua sepakat seluruhnya menghukumi golongan Qodariyah ini termasuk golongan kafir.
Mengapa golongan ini di Qodariyah pedahal mereka menafikan Allah SWT? Karena ia menafikkan Qudrat dan iradrat Allah tetapi di pakai dan di tetapkan Qudrat lradat itu untuk manusia, berarti yang mewujudkan dan menentukan segala sesuatu yang di kerjakan oleh manusia itu adalah qudrat dan lrodat manusia itu sendiri, sedang Allah tidak campur tangan dan tidak mengetauinya.
Menurut lmam Nawawi mazhab yang serupa itu pada saat ini, sudah lenyap sekali dari kalangan umat lslam.
D. Tokoh-tokoh pendiri aliran Qodariyah :
1. Ma’bad Al Juhaini
Seorang tabi’in, generasi kedua sesudah Nabi Muhammad SAW ia pernah belajar dengan Wahsil bin Atha’ (Imam kaum Mu’tazilah) kepada syeikh Hasan Basri di Basrah
Ia dihukum mati oleh Hajjaj seorang penguasa di basrah ketika itu karena fatwa-fatwanya yang salah
2. Ghailan Ad Dimasyqi
Penduduk Kota di Masqi (syiria) bapaknya seorang yang pernah bekerja pada khalifah Usman bin Affan dan Ghailan pun dihukum mati sama seperti Ma’bad
3. Ibrahim bin Safar An Nazham
Imam paham Qodariyah ini yang besar juga sebagai imam mu’tazilah ia meninggal pada 211 H.





B. ALIRAN JABARIYAH

A. Pengertian
Kata Jabariyah berasal dari kata jabara yang berarti memaksa. Di dalam Al-Munjid, dijelaskan bahwa nama jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu[4]. Kalau dikatakan, Allah mempunyai sifat Al- Jabar ( dalam bentuk mubaliqqoh), itu artinya Allah Maha Memaksa. Ungkapan insan majbur( bentuk isim maf”ul) mempunyai arti bahwa manusia dipaksa atau terpaksa. Selanjutnya, kata jabara (bentuk Pertama), setelah ditarik menjadi jabariyah (dengan menambah ya nisbah), memiliki arti suatu kelompok atau aliran (isme). Lebih lanjut  Asy-Syaratshan menegaskan bahwa paham al-jabar berarti menghilangkan perbuatan manusia dalam arti yang sesungguhnya dan menyandarkannya kepada Allah.[5]
Faham al-jabar pertama kali diperkenalkan oleh Ja’ad bin Dirham kemudian disebarkan oleh Jahm bin Syafwan dari Khurasan. Dalam sejarah teologi islam, Jahm tercatat sebagai tokoh yang mendirikan aliran Jahmiyaah dalam kalangan Murjiah. Ia adalah sekretaris Suraih bin Al-Haris dan selalu menemaninya dalam melawan kekuasan Bani Umayah.[6]
Lebih lanjut, Harun Nasution menjelaskan bahwa dalam situasi demikian, masyarakat Arab tidak melihat jalan untuk mengubah keadaan sekeliling mereka sesuai dengan keinginannya sendiri. Mereka merasa lemah dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup.

B. Sejarah Jabariyah
Pada masa keadaan keamanan sudah sudah pulih dengan tercapainya perjanjian antara Muawiyah dengan Hasan bin Ali bin Abu thalib, yang tidak mampu lagi menghadapi kekuatan Muawiyah. Maka Muawiyah mencari jalan untuk memperkuat kedudukannya dengan bermain politik yang licik. Ia ingin memasukkan diri di dalam pikiran rakyat jelata bahwa pengangkatan dirinya sebagai kepala negara dan memimpin umat islam adalah berdasarkan “ Qodha dan Qodhar/ ketentuan dan keputusan Allah semata-mata tidak ada unsur manusia.
C. Awal Kemunculan Jabariyah
Pertama kali muncul di khurasan (Persia) pada sat munculnya golongan Qodariyah,yaitu kira-kira pada tahun 70 H. aliran ini di pelopori oleh Jahm bin Shafwan, aliran ini juga di sebut Jahmiyah.
Namun pendpat lain mengatakan bahwa orang yang pertama mempelopori jabariyah adalah Al- ja’ad bin dirham, dia juga di sebut sebagai orang yang pertama kali menyebut bahwa Al-Quran makhluk dan sifat-sifat Allah SWT.
D. Pemimpin Jabariyah
1. Ja’ad bin Dirham
Ia adalah seorang hamba dari Bani Hakam dan tinggal di damsyik. Ia di bunuh pancung oleh gubernur kufah yaitu khamid bin Abdullah El-Qasri.
2. Jahm bin Shafwan
Ia berasal dari persia dan meninggal tahun 128 H dalam suatu peperangan di Marwa dengan Bani Umayah.
E. I’TIQAD kaum jabariah yang bertentangan dengan kaum ahlussunnah waljamaah.
Kaum jabariyah beri’tiqod, bahwa manusia itu “majbur” (terpaksa) dalam gerak-griknya, seperti bulu ayam diudara yang dipermainkan angin, atau kayu dilaut yang diperminkan ombak, manusia tidak mempunyai daya upaya, ikhtiar atau “kasab”.
Kaum ahlussunnah wal jama’ah berpendapat bahwa semuanya dijadikan oleh Tuhan, tetapi Tuhan pula yang menjadikan adanya “ikhtiar” atau “kasab” bagi manusia. Manusia berikhtiar dan manusia berusaha.
Paham “wahdatul wujud” yang bersasal dan berpangkal dari kaum jabariyah, adalah paham yang sesat lagi menyesatkan, harus dijauhi oleh orang mu’min dan muslim. Kaum jabariyah berfatwa, bahwa “iman” itu cukup kalau sudah mengakui dalam hati saja, walaupun tidak diikrarkan dengan lisan.
Dan ini sangat bertentangn dengan ahlussunnah wal jama’ah yang berpendapat bahwa iman itu, ialayh membenarkan dalam hati dan mengakui dengan lisan.
F. Ciri-ciri Ajaran Jabariyah
1. Bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan, dan ikhtiar apapun, setiap perbuatannya baik yang jahat, buruk atau baik semata-mata Allah yang menentukannya.
2. Bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu apapun sebelum terjadi.
3. Ilmu Allah bersifat hudust (baru).
4. Bahwa Allah tidak mempunai sifat yang sama dengan mahluk ciptaan-Nya.
5. Bahwa surga dan neraka tidak kekal, dan akan hancur dan musnah bersama penghuninya, karena yang kekal dan abadi hanyalah Allah semata.
6. Bahwa Allah tidak dapat dilihat di surga oleh penduduk surga.
7. Bahwa Al-Qur’an adalah mahluk, bukan kalamullah.
Taham bin shafwan  mengatakan bahwa manusia adalah dalam keadaan terpaksa, tidak bebas dan tidak mempunyai kekuasaan sedikit juapun untuk bertindak mengerjakan sesuatu. Allah-lah yang menentukan sesuatu itu kepada seseorang, apa yang dikerjakannya, baik dikehendaki oleh manusia itu ataupun tidak. Jadi Allah ta’ala-lah yang memperbuat segala pekerjaan manusia.
Taham selain penggerak jabariyah, juga pemimpin ajaran yang mengatakan bahwa Allah ta’ala itu tiada mempunyai sifat-sifat.
Menurut Taham, Tuhan hanyalah mempunyai zat saja dan dia mengatakan bahwa Allah itu sekali-kali tidak mungkin dapat terlihat oleh manusia walaupun di akhirat kelak.

C. ANALISIS
Faham jabariyah dan Qodariyah adalah dua faham yang sangat bertolak belakang satu dengan yang lain. Jabariyah adalah faham yang menyatakan bahwa segala perbuatan manusia adalah semua karena ditakdirkan Allah dan manusia tidak mempunyai kuasa sedikitpun dalam menciptakan tindakan-tindakannya sendiri. Lain halnya dengan faham Qodariyah yang menganggap segala perbuatan manusia adalah kuasa dari manusia itu sendiri tanpa campur tangan  Allah SWT.
Dari kedua faham diatas dapat dinilai bahwa keduanya memiliki jalan fikiran yang kaku dan hanya menggunakan satu dalil saja yang menjadi dasar pemikiran mereka. Sedangkan sudah dijelaskan bahwa semua ayat-ayat Al-Quran itu tidak ada satupun yang saling bertentangan. Namun kesemuanya itu memiliki hubungan yang erat baik secara harfiyah ataupun maknawiyah.
Ahlulsunnah Wal Jamaah memandang kedua faham ini adalah sesat dan wajib untuk ditinggalkan. Bila faham yang tersebut di atas terus dibiarkan, maka akan sesatlah jalan hidup manusia di dunia ini bagi siapa saja yang mengikutinya. Untuk itu, kita harus kembali merujuk pada dasar pedoman kita yaitu Al-Quran dan As-Sunnah dengan tidak memotong-motong ayat-ayat atau hadis hanya demi kepentingan yang tidak dibenarkan dalam Islam.




BAB III
PENUTUP
                                          KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Aliran qodariyah adalah aliran yang berpaham, bahwa perbuatan manusia diciptakan oleh manusia sendiri dan Tuhan tidak ikut sangkut paut dalam kehidupan manusia.
Aliran jabariyah adalah aliran yang berpaham, bahwa perbuatan manusia itu semua dari Allah dan manusia tidak dapat berbuat apapun.
Latar belakang timbulnya qodariyah ini sebagai isyarat kebijaksanaan politik Bani Ummayah yang di anngapnya kejam. Tak dapat di ketahui pasti, paham ini timbul dalam sejarah perkembangan teologi islam,tapi menurut keterangan ahli teologi islam, di timbulkan oleh Ma’Abad al-jauhani dan temannya Ghailan al- Dimasyqidi irak, Ma’abad adalah seorang seorang tabi’I yang baik tetapi ia memasuki lapangan politik dan memihak Abd al-Rahman ibn al – Asy’as, gubernur Sajistan, dalam menentang kekuasaan bani Umayyah. Dalam pertempuran al- Hajjaj Ma’Bad mati terbunuh dalam tahun 80 H.
Faham Jabariyah pertama kali muncul di khurasan (Persia) pada sat munculnya golongan Qodariyah,yaitu kira-kira pada tahun 70 H. aliran ini di pelopori oleh Jahm bin Shafwan, aliran ini juga disebut Jahmiyah.
Namun pendapat lain mengatakan bahwa orang yang pertama mempelopori jabariyah adalah Al- ja’ad bin dirham, dia juga di sebut sebagai orang yang pertama kali menyebut bahwa Al-Quran makhluk dan sifat-sifat Allah SWT.
Dan kedua paham ini merupakan paham yang berstatus sesat dan bertentangan dengan ahlussunnah wal jama’ah.
Tokoh-tokoh dari kaum Qadariyah antara lain; Ma’Abad al-jauhani dan temannya Ghailan al- Dimasyqidi. Sedangkan tokoh dari kaum Jabariyah yaitu; Jahm bin Shafwan dan Al- ja’ad bin Dirham.
Dalam menerapkan segala sesuatu baiknya dan lebih baik kembali merujuk kepada Al-Qur’an dan Al Hadits. Karena sesungguhnya Rasulullah pernah bersabda dalam riwayat sahihnya bahwa barang siapa berpegang teguh pada kedua tali Al-Qur’an dan Al Hadits maka tiada tersesat ia selama-lamanya. Secara lengkap sabda Beliau demikian:
“Telah aku tinggalkan untuk kalian dua pusaka. Jika kalian berpegang teguh kepada keduanya niscaya tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah ( Al-Quran) dan Sunnah Rasul-nya”.  (HR. Bukhari).
B. Kritik dan Saran
Dalam berusaha melengkapi makalah ini, tentu ada sesuatu yang kurang dan kami sebagai penulis baik dari pembahasan ataupun dari segi tulisan menyadari akan hal demikian. Maka dari itu kami akan berusaha lebih baik dengan selalu mengedapankan sumber-sumber yang lebih layak sebagai reverensi.
Kami sangatlah mengharapkan masukan baik berupa kritik ataupun saran sehingga dapat menjadi sebuah instropeksi dari karya kami juga sebagai semangat dan landasan baru untuk terus berinovasi dalam berkarya.
“Tiada ada yang sempurna, bila ketidak sempurnaan tak pernah ditemui dan disadari.”
Walaupun demikian, kami sangat berharap karya ini dapat menjadi salah satu acuan dalam pembelajaran terutama sebagai reverensi untuk dalam mata kuliah Ilmu Kalam.




DAFTAR PUSTAKA

Rozak, Abdul dan Anwar Rosihan , Ilmu Kalam, CV. Pustaka Setia, Bandung, 2007.
Abrahamas, Binyamin, Ilmu Kalam,PT. Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2002.
Mustofa, A., Filsafat  Islam, CV. Pustaka Setia, Bandung, 2004.
Nasution, Harun, Teologi Islam Aliran- Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Penerbit: Universitas Indonesia, Jakarta, 2006.
Mudasir, H., Ilmu Hadis, CV. Pustaka Setia, Bandung, 2010.


[1] ) Rosihan Anwar,mengutip, Luwis Ma’luf Al-Yisi’I, Al-Munjid, al- Khatahuliyah, Beirut, 1945, hlm 436; lihat juga Hans Wehr, A Dictionary Of Modern Written Arabic, Wlesbanden, 1971, hlm. 745.
[2] ) Rosihan Anwar, mengutip; Al- Yusu’I, op. cit., hlm. 436.
[3] ) Rosihan Anwar, mengutip; Teologi Islam . . . hlm. 31.
[4] ) Abdul Rozak mengutip, Luis Ma”luf, Al-Munjid ft Al-Lughah wa Al-alam, Beirut. Dar Al-Masyriq. 1998, hlm. 78.

[5] ) Rosihan anwar, mengutip; Asy-Syahratsany, Almilal wa An-Nihal, Beirut, halm. 85.
[6] ) Rosihan Anwar, mengutip; Ibid . . . hlm.33.