Minggu, 22 Mei 2011

ALIRAN QODARIYAH DAN JABARIYAH

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam membentengi diri dari berbagai pengaruh negative di zaman yang maju ini banyak sekali berbagai paham yang bermunculan, baik dari segi politik, budaya, ilmu pengetahuan bahkan di dalam agama, khususnya Agama Islam. Kehidupan yang demikian akan banyak menimbulkan banyak permasalahan yang komplek serta rumit dan bersifat fatal karena berhubungan dengan integrasi di dalam masyrakat.
Salah satu tujuan pembahasan ini ialah memberikan pemahaman dan pengetahuan bagi mahasiswa atau umum untuk lebih menerapkan asas toleransi dan simpati terhadap perbedaan mashab yang sering dijumpai di sekitar kehidupan bersosial. Tentu dalam hal ini memiliki batasan-batasan tertentu yang menjadi landasan memberikan toleransi dan empati, yaitu ketika dijumpai suatu faham yang tidak sesuai dengan Al-Quran dan Assunnah, maka  hal ini perlu diadakan penangan lebih lanjut.
Hal demikian sangat perlu dilakukan agar umat Islam tidak terjerumus dalam sebuah kesesatan yang fatal, lebih-lebih menganggap benar hal-hal yang salah dan bertentangan dengan kaidah hukum Islam yang dibawa oleh Rosul terakhir, Muhammad SAW.
Pada saat ini banyak dijumpai aliran-aliran atau faham-faham yang dibuat orang muslim namun bertentangan dengan Islam yang hakiki. Seperti aliran Islam Ahmadiyah yang mengangap  ada rosul setelah Muhammad. Mereka percaya dan yakin bahwa orang kafir benama Ahmad Gulam Mirja adalah nabi terakhir yaitu nabi ke dua puluh enam. Dan masih banyak lagi contoh lainnya yang ada di Indonesia ini.
Hal diatas sangatlah fatal dan berbahaya bagi umat Islam yang memiliki Iman dan pengetahuan tentang Islam yang kurang dan lebih-lebih tidak ada kemauan untuk menggali dan
Pembahasan ini juga akan memberi suatu konstribusi bagi pengetahuan pembaca agar lebih selektif dan berhati-hati dalam menentukan segala hal yang berkaitan dengan keyakinan atau keimanan, khususnya dalam hal teologi.
Mengacu pada hal diatas maka karya tulisan ini dibuat agar dapat menjadi salah satu sumber yang menyumbang dalam menegakkan suasana Islam yang hakiki sesuai dengan Risalah yang di emban oleh Rosulullah agar kita menjadi pewaris yang teteap istiqomah dijalan Allah yang lurus dan penuh cahaya keridoan-Nya ini.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari Aliran Qodariyah dan Aliran Jabariyah  tersebut ?
2.  Bagaimanakah sejarah dari kedua aliran tersebut ?
3. Bagaimanakah pola pemikiran yang diyakini masing-masing aliran tersebut  ?
4. Bagaimanakah status kedua aliran  tersebut, sesatkah  ?
5. Siapakah tokoh-tokoh pendirinya ?

C. Tujuan
Dengan hasil karya tulisan ini diharapkan Mahasiswa dapat menjelaskan dan menguraikan pengertian dari aliran Qodariyah dan Jabariyah secara Etimologi ataupun secara Terminologi. Mengetahui bagaimana sejarah kemunculan dari aliran-aliran tersebut dengan memperhatikan dari segi konsep penetahuan yang luas. Dapat menjelaskan tentang bagaimana pola pikir yang diyakini oleh masing-masing aliran. Mampu mengidentifikasikan tentang hukum dari kedua aliran tersebut. Dan mengetahui tokoh-tokoh pendiri yang berperan penting dalam munculnya aliran-aliran tersebut. Serta diharapkan lebih lanjut agar Mahasiswa dapat mencari reverensi lainnya sebagai suatu usaha untuk menambah pengetahuan tentang keadaan umat saat ini.
 Sebab dengan membandingkan hal-hal demikian dapat memberikan suatu asumsi yang baik dan menjadikan diri lebih hati-hati dalam melaksanakan ibadah. Suatu ibadah harus sesuai dengan yang diajarkan Rosulullah sehingga suatu ibadah mendapat jalan untuk dapat di terima sebagai amalan yang akan membela diri di Yaumul Akhir nanti. Amin ya Rabbal Alamin.


















BAB II
PEMBAHASAN

A. ALIRAN QODARIYAH

A. Pengertian
Qodariyah berasal dari bahasa arab,yaitu dari qadara yang artinya kemampuan dan kekuatan.[1] Adapun menurut pengertian terminologi, Qodariyah adalah satu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak di intrevensi oleh Tuhan. Aliran ini berpendapat bahwa tiap- tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya. Ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendak sendiri.[2] Berdasarkan pengertian tersebut bahwa nama Qodariyah digunakan untuk menyebut suatu aliran yang memberi penekanan atas kebebasan dan kekuatan manusia dalam mewujudkan perbuatan- perbuatannya. Dalam hal ini, Harun Nasution menegaskan bahwa kaum Qodariyah berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia tunduk pada qadar Tuhan.[3]
B. Sejarah Qodariyah
Latar belakang timbulnya qodariyah ini sebagai isyarat kebijaksanaan politik Bani Ummayah yang di anngapnya kejam.
Tak dapat di ketahui pasti, paham ini timbul dalam sejarah perkembangan teologi islam,tapi menurut keterangan ahli teologi islam, di timbulkan oleh Ma’Abad al-jauhani dan temannya Ghailan al- Dimasyqidi irak, Ma’abad adalah seorang seorang tabi’I yang baik tetapi ia memasuki lapangan politik dan memihak Abd al-Rahman ibn al – Asy’as, gubernur Sajistan, dalam menentang kekuasaan bani Umayyah. Dalam pertempuran al- Hajjaj Ma’Bad mati terbunuh dalam tahun 80 H.
C. I’TIQAD kaum Qadariyah yang bertentangan dengan Ahlussunah Waljamaah
 Kaum qodariyah beri’tiqad bahwa perbuatan manusia di ciptakan oleh manusia sendiri dengan qodrat yang telah di berikan Tuhan kepadanya sedari mereka lahir ke dunia.
Kaum Qodariyah mengemukakan dahlil-dahlil ‘akal dan dahlil-dahlil naqal (Quran dan hadist) untuk memperkuat pendirian mereka, mengapa mereka di beri pahala kalau berbuat baik dan di siksa kalau berbuat maksiat, pada hal yang membuat atau menciptakan hal itu adalah Allah swt, dan mereka juga mengatakan kalau Tuhan itu tidak adil.

Beberapa dahlil yang di kemukakan oleh kaum Qodariyah tanpa memperhatikan tafsir-tafsir nabi dan sahabat nabi ahli tafsir.
“Bahwasannya  Allah  tidak bisa merubah  nasib suatu kaum, kalau tidak mereka sendiri yang merubahnya.” (Ar-Ra’d; 11).
Kaum Qodariyah menyatakan pada ayat tadi bahwa Tuhan “ Tidak Bisa” atau “Tidak Kuasa” merubah nasib manusia kecuali mereka sendiri yang merubahnya.
Nampak jelas sekali bahwa kepercayaan kaum Qodariyah ini sama dengan kaum Mu’ tajillah, hanya perlainannya kaum Mu’tajzillah mengatakan “ Bahwa pekerjaan Manusia yang baik di jadikan Tuhan”. Sedangkan kaum Qodariyah “ baik dan buruk tidak di jadikan oleh tuhan”.
Fatwa kaum Qodariyah di Mu’tajzillahini tidak sesuai dan di tentang oleh Ahlusunah waljama’ah, yang di imami oleh Imam Abu Hasan Al-Asy’ari,
Kaum Ahlussunnah mengemukakan, Tuhan berfirman dalam Al-Quran :

“Dan Tuhan yang menjadikan kamu dan apa- apa yang kamu kerjakan” (As-shaffat : 96).
Terang bahwa dalam ayat ini yang menjadikan mausia dan yang menjadikan pekerjaan manusia adalah Tuhan, Bukan manusia. Jadi takdir sudah tertulis dalam izal sebelum manusiadilahirkan.

“Dan tidak bisa kamu menghendaki, kecuali kalau Tuhan menghendaki” (Ali Imran : 30).
Takdir Ilahi itu menurut Ahlusunnsah wal jamaah ada 4, yaitu :
1. Takdir dalam ilmu Tuhan tidak berubah-ubah  lagi
2. Takdir yang di tuliskan pada luh Mahfuzh ini bisa berubah kalau  Tuhan menghendaki.
3. Takdir dalam rahim ibu itu sesuai dengan  luh mahfuzh.
4. Takdir dalam kenyataan, yakin di jadikan sesuatu dalam  kenyataanya menurut takdir yang telah di tetapkan.

Dalil-dalil yang di majukan oleh kaum Qodariyah sangat bertentangan bahkan tidak tepat. Arti yang di kemukakan pada ayat ke-2 surat Ar Ra’ad itu jelas-jelas salah, bahwa yang         benar,
“Bahwasannya Tuhan tidak mengambil nikmat yang telah di berikan-Nya kepada manusia, kecuali kalau mereka sudah merubah, yakni dari tha’at menjadi durhaka”

Contoh :
Tuhan telah memberi banyak sekali nikmat, kalau dengan nikmat ini kita berfoya-foya, membuat segala macam dosa maka anugrah ini akan di ambilnya. Inilah janji Tuhan.
Qodariyah ini di pelopori oleh Ma’bah Al-Jauhani Al-bisri di tanah Irak. Beliau juga sebagai seorang yang alim juga tentang Al-Quran dan Hadist, tetapi kemudian ia menjadi sesat dan membuat pendapat-pendapat yang salah serta batal. Tetapi ia di bunuh oleh Abdul Malik bin Marwan dan di sulakan di Damsyik tahun 80 H.
Pendapat yang batal sebagai berikut:
Bahwasanya Allah SWT. Tidak mengetahui segala apa juapun yang di perbuat oleh manusia, dan tidak pula yang di perbuat oleh manusia itu dengan Qudrat dan Iradat Allah SWT.
Bahkan manusialah yang mengetahui serta mewujudkan segala yang di amalkannya, itu dan semuanya dengan diqodrat iradat manusia sendiri, Tuhan sama sekali tidak campur tangan di dalam pembuktian amalan-amalan itu.
Kaum Muslimin sudah semua sepakat seluruhnya menghukumi golongan Qodariyah ini termasuk golongan kafir.
Mengapa golongan ini di Qodariyah pedahal mereka menafikan Allah SWT? Karena ia menafikkan Qudrat dan iradrat Allah tetapi di pakai dan di tetapkan Qudrat lradat itu untuk manusia, berarti yang mewujudkan dan menentukan segala sesuatu yang di kerjakan oleh manusia itu adalah qudrat dan lrodat manusia itu sendiri, sedang Allah tidak campur tangan dan tidak mengetauinya.
Menurut lmam Nawawi mazhab yang serupa itu pada saat ini, sudah lenyap sekali dari kalangan umat lslam.
D. Tokoh-tokoh pendiri aliran Qodariyah :
1. Ma’bad Al Juhaini
Seorang tabi’in, generasi kedua sesudah Nabi Muhammad SAW ia pernah belajar dengan Wahsil bin Atha’ (Imam kaum Mu’tazilah) kepada syeikh Hasan Basri di Basrah
Ia dihukum mati oleh Hajjaj seorang penguasa di basrah ketika itu karena fatwa-fatwanya yang salah
2. Ghailan Ad Dimasyqi
Penduduk Kota di Masqi (syiria) bapaknya seorang yang pernah bekerja pada khalifah Usman bin Affan dan Ghailan pun dihukum mati sama seperti Ma’bad
3. Ibrahim bin Safar An Nazham
Imam paham Qodariyah ini yang besar juga sebagai imam mu’tazilah ia meninggal pada 211 H.





B. ALIRAN JABARIYAH

A. Pengertian
Kata Jabariyah berasal dari kata jabara yang berarti memaksa. Di dalam Al-Munjid, dijelaskan bahwa nama jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu[4]. Kalau dikatakan, Allah mempunyai sifat Al- Jabar ( dalam bentuk mubaliqqoh), itu artinya Allah Maha Memaksa. Ungkapan insan majbur( bentuk isim maf”ul) mempunyai arti bahwa manusia dipaksa atau terpaksa. Selanjutnya, kata jabara (bentuk Pertama), setelah ditarik menjadi jabariyah (dengan menambah ya nisbah), memiliki arti suatu kelompok atau aliran (isme). Lebih lanjut  Asy-Syaratshan menegaskan bahwa paham al-jabar berarti menghilangkan perbuatan manusia dalam arti yang sesungguhnya dan menyandarkannya kepada Allah.[5]
Faham al-jabar pertama kali diperkenalkan oleh Ja’ad bin Dirham kemudian disebarkan oleh Jahm bin Syafwan dari Khurasan. Dalam sejarah teologi islam, Jahm tercatat sebagai tokoh yang mendirikan aliran Jahmiyaah dalam kalangan Murjiah. Ia adalah sekretaris Suraih bin Al-Haris dan selalu menemaninya dalam melawan kekuasan Bani Umayah.[6]
Lebih lanjut, Harun Nasution menjelaskan bahwa dalam situasi demikian, masyarakat Arab tidak melihat jalan untuk mengubah keadaan sekeliling mereka sesuai dengan keinginannya sendiri. Mereka merasa lemah dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup.

B. Sejarah Jabariyah
Pada masa keadaan keamanan sudah sudah pulih dengan tercapainya perjanjian antara Muawiyah dengan Hasan bin Ali bin Abu thalib, yang tidak mampu lagi menghadapi kekuatan Muawiyah. Maka Muawiyah mencari jalan untuk memperkuat kedudukannya dengan bermain politik yang licik. Ia ingin memasukkan diri di dalam pikiran rakyat jelata bahwa pengangkatan dirinya sebagai kepala negara dan memimpin umat islam adalah berdasarkan “ Qodha dan Qodhar/ ketentuan dan keputusan Allah semata-mata tidak ada unsur manusia.
C. Awal Kemunculan Jabariyah
Pertama kali muncul di khurasan (Persia) pada sat munculnya golongan Qodariyah,yaitu kira-kira pada tahun 70 H. aliran ini di pelopori oleh Jahm bin Shafwan, aliran ini juga di sebut Jahmiyah.
Namun pendpat lain mengatakan bahwa orang yang pertama mempelopori jabariyah adalah Al- ja’ad bin dirham, dia juga di sebut sebagai orang yang pertama kali menyebut bahwa Al-Quran makhluk dan sifat-sifat Allah SWT.
D. Pemimpin Jabariyah
1. Ja’ad bin Dirham
Ia adalah seorang hamba dari Bani Hakam dan tinggal di damsyik. Ia di bunuh pancung oleh gubernur kufah yaitu khamid bin Abdullah El-Qasri.
2. Jahm bin Shafwan
Ia berasal dari persia dan meninggal tahun 128 H dalam suatu peperangan di Marwa dengan Bani Umayah.
E. I’TIQAD kaum jabariah yang bertentangan dengan kaum ahlussunnah waljamaah.
Kaum jabariyah beri’tiqod, bahwa manusia itu “majbur” (terpaksa) dalam gerak-griknya, seperti bulu ayam diudara yang dipermainkan angin, atau kayu dilaut yang diperminkan ombak, manusia tidak mempunyai daya upaya, ikhtiar atau “kasab”.
Kaum ahlussunnah wal jama’ah berpendapat bahwa semuanya dijadikan oleh Tuhan, tetapi Tuhan pula yang menjadikan adanya “ikhtiar” atau “kasab” bagi manusia. Manusia berikhtiar dan manusia berusaha.
Paham “wahdatul wujud” yang bersasal dan berpangkal dari kaum jabariyah, adalah paham yang sesat lagi menyesatkan, harus dijauhi oleh orang mu’min dan muslim. Kaum jabariyah berfatwa, bahwa “iman” itu cukup kalau sudah mengakui dalam hati saja, walaupun tidak diikrarkan dengan lisan.
Dan ini sangat bertentangn dengan ahlussunnah wal jama’ah yang berpendapat bahwa iman itu, ialayh membenarkan dalam hati dan mengakui dengan lisan.
F. Ciri-ciri Ajaran Jabariyah
1. Bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan, dan ikhtiar apapun, setiap perbuatannya baik yang jahat, buruk atau baik semata-mata Allah yang menentukannya.
2. Bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu apapun sebelum terjadi.
3. Ilmu Allah bersifat hudust (baru).
4. Bahwa Allah tidak mempunai sifat yang sama dengan mahluk ciptaan-Nya.
5. Bahwa surga dan neraka tidak kekal, dan akan hancur dan musnah bersama penghuninya, karena yang kekal dan abadi hanyalah Allah semata.
6. Bahwa Allah tidak dapat dilihat di surga oleh penduduk surga.
7. Bahwa Al-Qur’an adalah mahluk, bukan kalamullah.
Taham bin shafwan  mengatakan bahwa manusia adalah dalam keadaan terpaksa, tidak bebas dan tidak mempunyai kekuasaan sedikit juapun untuk bertindak mengerjakan sesuatu. Allah-lah yang menentukan sesuatu itu kepada seseorang, apa yang dikerjakannya, baik dikehendaki oleh manusia itu ataupun tidak. Jadi Allah ta’ala-lah yang memperbuat segala pekerjaan manusia.
Taham selain penggerak jabariyah, juga pemimpin ajaran yang mengatakan bahwa Allah ta’ala itu tiada mempunyai sifat-sifat.
Menurut Taham, Tuhan hanyalah mempunyai zat saja dan dia mengatakan bahwa Allah itu sekali-kali tidak mungkin dapat terlihat oleh manusia walaupun di akhirat kelak.

C. ANALISIS
Faham jabariyah dan Qodariyah adalah dua faham yang sangat bertolak belakang satu dengan yang lain. Jabariyah adalah faham yang menyatakan bahwa segala perbuatan manusia adalah semua karena ditakdirkan Allah dan manusia tidak mempunyai kuasa sedikitpun dalam menciptakan tindakan-tindakannya sendiri. Lain halnya dengan faham Qodariyah yang menganggap segala perbuatan manusia adalah kuasa dari manusia itu sendiri tanpa campur tangan  Allah SWT.
Dari kedua faham diatas dapat dinilai bahwa keduanya memiliki jalan fikiran yang kaku dan hanya menggunakan satu dalil saja yang menjadi dasar pemikiran mereka. Sedangkan sudah dijelaskan bahwa semua ayat-ayat Al-Quran itu tidak ada satupun yang saling bertentangan. Namun kesemuanya itu memiliki hubungan yang erat baik secara harfiyah ataupun maknawiyah.
Ahlulsunnah Wal Jamaah memandang kedua faham ini adalah sesat dan wajib untuk ditinggalkan. Bila faham yang tersebut di atas terus dibiarkan, maka akan sesatlah jalan hidup manusia di dunia ini bagi siapa saja yang mengikutinya. Untuk itu, kita harus kembali merujuk pada dasar pedoman kita yaitu Al-Quran dan As-Sunnah dengan tidak memotong-motong ayat-ayat atau hadis hanya demi kepentingan yang tidak dibenarkan dalam Islam.




BAB III
PENUTUP
                                          KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Aliran qodariyah adalah aliran yang berpaham, bahwa perbuatan manusia diciptakan oleh manusia sendiri dan Tuhan tidak ikut sangkut paut dalam kehidupan manusia.
Aliran jabariyah adalah aliran yang berpaham, bahwa perbuatan manusia itu semua dari Allah dan manusia tidak dapat berbuat apapun.
Latar belakang timbulnya qodariyah ini sebagai isyarat kebijaksanaan politik Bani Ummayah yang di anngapnya kejam. Tak dapat di ketahui pasti, paham ini timbul dalam sejarah perkembangan teologi islam,tapi menurut keterangan ahli teologi islam, di timbulkan oleh Ma’Abad al-jauhani dan temannya Ghailan al- Dimasyqidi irak, Ma’abad adalah seorang seorang tabi’I yang baik tetapi ia memasuki lapangan politik dan memihak Abd al-Rahman ibn al – Asy’as, gubernur Sajistan, dalam menentang kekuasaan bani Umayyah. Dalam pertempuran al- Hajjaj Ma’Bad mati terbunuh dalam tahun 80 H.
Faham Jabariyah pertama kali muncul di khurasan (Persia) pada sat munculnya golongan Qodariyah,yaitu kira-kira pada tahun 70 H. aliran ini di pelopori oleh Jahm bin Shafwan, aliran ini juga disebut Jahmiyah.
Namun pendapat lain mengatakan bahwa orang yang pertama mempelopori jabariyah adalah Al- ja’ad bin dirham, dia juga di sebut sebagai orang yang pertama kali menyebut bahwa Al-Quran makhluk dan sifat-sifat Allah SWT.
Dan kedua paham ini merupakan paham yang berstatus sesat dan bertentangan dengan ahlussunnah wal jama’ah.
Tokoh-tokoh dari kaum Qadariyah antara lain; Ma’Abad al-jauhani dan temannya Ghailan al- Dimasyqidi. Sedangkan tokoh dari kaum Jabariyah yaitu; Jahm bin Shafwan dan Al- ja’ad bin Dirham.
Dalam menerapkan segala sesuatu baiknya dan lebih baik kembali merujuk kepada Al-Qur’an dan Al Hadits. Karena sesungguhnya Rasulullah pernah bersabda dalam riwayat sahihnya bahwa barang siapa berpegang teguh pada kedua tali Al-Qur’an dan Al Hadits maka tiada tersesat ia selama-lamanya. Secara lengkap sabda Beliau demikian:
“Telah aku tinggalkan untuk kalian dua pusaka. Jika kalian berpegang teguh kepada keduanya niscaya tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah ( Al-Quran) dan Sunnah Rasul-nya”.  (HR. Bukhari).
B. Kritik dan Saran
Dalam berusaha melengkapi makalah ini, tentu ada sesuatu yang kurang dan kami sebagai penulis baik dari pembahasan ataupun dari segi tulisan menyadari akan hal demikian. Maka dari itu kami akan berusaha lebih baik dengan selalu mengedapankan sumber-sumber yang lebih layak sebagai reverensi.
Kami sangatlah mengharapkan masukan baik berupa kritik ataupun saran sehingga dapat menjadi sebuah instropeksi dari karya kami juga sebagai semangat dan landasan baru untuk terus berinovasi dalam berkarya.
“Tiada ada yang sempurna, bila ketidak sempurnaan tak pernah ditemui dan disadari.”
Walaupun demikian, kami sangat berharap karya ini dapat menjadi salah satu acuan dalam pembelajaran terutama sebagai reverensi untuk dalam mata kuliah Ilmu Kalam.




DAFTAR PUSTAKA

Rozak, Abdul dan Anwar Rosihan , Ilmu Kalam, CV. Pustaka Setia, Bandung, 2007.
Abrahamas, Binyamin, Ilmu Kalam,PT. Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2002.
Mustofa, A., Filsafat  Islam, CV. Pustaka Setia, Bandung, 2004.
Nasution, Harun, Teologi Islam Aliran- Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Penerbit: Universitas Indonesia, Jakarta, 2006.
Mudasir, H., Ilmu Hadis, CV. Pustaka Setia, Bandung, 2010.


[1] ) Rosihan Anwar,mengutip, Luwis Ma’luf Al-Yisi’I, Al-Munjid, al- Khatahuliyah, Beirut, 1945, hlm 436; lihat juga Hans Wehr, A Dictionary Of Modern Written Arabic, Wlesbanden, 1971, hlm. 745.
[2] ) Rosihan Anwar, mengutip; Al- Yusu’I, op. cit., hlm. 436.
[3] ) Rosihan Anwar, mengutip; Teologi Islam . . . hlm. 31.
[4] ) Abdul Rozak mengutip, Luis Ma”luf, Al-Munjid ft Al-Lughah wa Al-alam, Beirut. Dar Al-Masyriq. 1998, hlm. 78.

[5] ) Rosihan anwar, mengutip; Asy-Syahratsany, Almilal wa An-Nihal, Beirut, halm. 85.
[6] ) Rosihan Anwar, mengutip; Ibid . . . hlm.33.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar