BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Penentuan tinggi rendahnya tingkatan suatu hadist bergantung kepada tiga hal, yaitu jumlah rawi, keadaan (kualitas) rawi, dan keadaan matan. Bila dua buah hadits menentukan kepada rawi dan keadaan matan yang sama, maka hadits yang diriwayatkan oleh dua orang rawi lebih tinggi tingkatannya dari hadits yang diriwayatkan oleh satu orang rawi.
Hadits Mutawatir memberikan pengertian kepada Yaqin al-qoth’I bahwa Nabi Muhammad SAW, benar-benar bersabda, berbuat, atau menyatakan Iqrar (persetujuan) – Nya dihadapan para sahabat, berdasarkan sumber–sumber yang banyak sekali yang mustahil meraka sama-sama mengadakan persepakatan untuk berdusta. Berlainan dengan hadits ahad yang memberikan faedah “dhony“ (prasangka yang kuat akan kebenaran Nya).
Mengharuskan kepada kita untuk mengadakan penyelidikan dan pemeriksaan yang seksama mengenai kelakuan dan keadaan para rawinya. Agar hadits ahad tersebut dapat diterima sebagai hujjah atau ditolak. Dari segi ini hadits ahad terbagi menjadi tiga bagian, yaitu : Hadits Shahih, Hadits Hasan, dan Hadits Dhaif.
Dalam masa yang cukup panjang ini, telah terjadi pemalsuan-pemalsuan hadits yang dilakukan oleh beberapa golongan dengan berbagai tujuan atas kenyataan ini, maka Ulama’ hadits dalam usahanya menghimpau hadits Nabi, selain harus melakukan perlawanan untuk menghubungi para periwayat yang tersebar diberbagai daerah yang jauh, juga harus mengadakan penelitian dan penyeleksian terhadap semua hadits yang mereka himpunkan, karena itu, proses penghimpunan hadits secara menyeluruh terpaksa mengalami waktu yang cukup panjang, yakni sekitar lebih dari satu abad, kitab-kitab hadits yang mereka hasilkan bermacam-macam jenisnya, baik dari segi kuantitas dan kualitas hadits yang di muatnya, maupun cara penyusunannya.
B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah penentuan tinggi redahnya suatu hadis?
Bagaimanakah pembagian hadis bila ditinjau dari segi kualitasnya?
Apakah yang di maksud dengan hadis Shahih?
Apakah yang dimaksud dengan hadis Hasan?
Apakah hadis daif itu?
C. TUJUAN PEMBAHASAN
Dengan demikian, tujuan utama penelitian hadits adalah untuk menilai apakah secara historis sesuatu yang dikatakan sebagai hadits Nabi itu benar-benar dapat dipertanggung jawabkan kesahihannya berasal dari Nabi ataukah tidak. Hal ini sangat penting, mengingat kedudukan kualitas hadits erat sekali kaitannya dengan dapat atau tidak dapatnya suatu hadits dijadikan Hujjah (Hujjah, Dalil) agama.
BAB II
PEMBAHASAN
Pembagian hadis di tinjau dari segi kualitasnya terbagi atas:
A. Hadits Sahih
Hadits sahih menurut bahasa berarti hadits yang bersih dari cacat, hadits yng benar berasal dari Rasulullah SAW. Batasan hadits sahih, yang diberikan oleh ulama, antara lain :
Artinya :
“Hadits sahih adalah hadits yang susunan lafadnya tidak cacat dan maknanya tidak menyalahi ayat (al-Quran), hdis mutawatir, atau ijimak serta para rawinya adil dan dabit.”
· Syarat hadits Sahih adalah:
a. Diriwayatkan oleh perawi yang adil.
b. Kedhabitan perawinya sempurna.
c. Sanadnya bersambung
d. Tidak ada cacat atau illat.
e. Matannya tidak syaz atau janggal.
· Macam-macam Hadis Shahih
a. Hadits Shahih Lazatih adalah suatu hadits yang memenuhi secara lengkap syarat-syarat hadits shahih.
Contoh :
حَدَّثَناَعَبْدَاللهِ بْنُ يُوْسُفَ اَخْبَرَناَماَلِكُ عَنْ ناَفِعٍ عَنْ عَبْدِاللهِ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ قاَلَ : اِذَاكاَنُوْثَلاَثَةً فَلاَيَتَناَجَى اِثْناَنِ دُوْنَ الثَّالِثِ ( رواه البخارى )
Artinya : “Bukhori berkata, “Abdullah bin yusuf telah menceritakan kepada kami bahwa Rosulullah SAW, bersabda, “Apabila mereka bertiga, janganlah dua orang berbisik tanpa ikut serta orang ketiga“ (HR. Bukhori).
Hadits diatas diterima oleh Bukhori dari Abdullah bin yusuf. Abdullah bin yusuf menerimanya dari Malik. Malik menerimanya dari Nafi’, Nafi’ menerimanya dari Abdullah dan Abdullah itulah sahabat Nabi yang mendengar Nabi SAW bersabda.
Semua nama-nama tersebut adalah rawi-rawi yang adil, zabit,dan benar-benar bersambung. Tidak ada cacat, baik pada sanad maupun matan.
b. Hadits Shahih Lighairih adalah hadits yang dibawah tingkatan shahih yang menjadi hadits shahih, karena diperkuat oleh hadits-hadits yang lain. Pada hakekatnya hadits shahih lighairih adalah hadits hasan lizatih (hadits hasah karena dirinya sendiri).
Contoh :
عَنْ ابَِِىْ هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قاَلَ : لَوْلاَاَشُقَّ عَلَى اُمَّتِىْ لاَمَرْتُهُمْ بِلسِّوَاكِ عِنْدَكُلِّ صَلاَةٍ ( رواه البخارى والترمذى )
Artinya : “Dari Abu Khurairoh, bahwa Rosulullah bersabda, “sekiranya Aku tidak menyusahkan umatku, tentu Aku menyuruh mereka bersiwak (menggosok gigi) setiap sholat“ (HR. Bukhori dan Muslim)
Bila suatu hadits diriwayatkan oleh lima buah sanad, maka hadits itu dihitung bukan sebagai satu hadits, tetapi lima hadits. Hadits yang diriwayatkan oleh empat buah sanad, dihitung sebagai empat buah hadits. Jadi hadits tersebut diatas yang diriwayatkan oleh Bukhori dengan tersendiri dan Tirmizi dengan sanad tersendiri pula, dihitung sebagai dua hadits.
B. Hadits Hasan
Menurut bahasa, hasan berarti bagus atau baik. Menurut Imam Turmuzi hasis hasan adalah :
Artinya :
“yang kami sebut hadits hasan dalam kitab kami adalah hadits yang sannadnya baik menurut kami, yaitu setiap hadits yang diriwayatkan melalui sanad di dalamnya tidak terdapat rawi yang dicurigai berdusta, matan haditsnya, tidak janggal diriwayatkan melalui sanad yang lain pula yang sederajat. Hadits yang demikian kami sebut hadits hasan.”
· Syarat hadits hasan adalah:
a. Para perawinya adil.
b. Kedhabitan perawinya dibawah perawi hadits sahih.
c. Sanadnya bersambung.
d. Tidak mengandung kejanggalan pada matannya.
e. Tidak ada cacat atau illat
· Macam-macam Hadis Hasan
1. Hadits Hasan Lizatih
Adalah hadits yang berwujud karena dirinya sendiri yakni karena matan dan para perowinya memenuhi syarat-syarat hadits shahih, kecuali keadaan rowi (rawinya kurang zabit).
Diantara hadits-hadits hasan lizatih sebagian dapat berada pada tingkatan hasan, tetapi sebagian lainnya dapat naik pada tingkatan shahih lighairih.
Contohnya :
لََوْلاَ اََنْ أَشُقَّ عَلَى اُمَّتِى أَوْعَلَى النَّاسِ لأَمَرْتُهُمْ بِالسَّوَاكِ مَعِ كُلَّ صَلاَةِ (رواه البخارى والترمذى)
Artinya : “Sekiranya Aku tidak menyusahkan umatku, tentu Aku menyuruh mereka bersiwak (menggosok gigi) setiap sholat“ (HR. Bukhori Muslim).
2. Hadits Hasan Lighairih
Adalah hadits dibawah derajat hasan yang naik ketingkatan hadits hasan, karena hadits lain yang menguatkannya atau hadits hasan lighairih adalah hadits dhaif yang karena dikuatkan oleh hadits yang lain, meningkat menjadi hasan.
Contoh hadits hasan lighairih:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : حَقًّاعَلَى الْمُسْلِمِيْنَ اَنْ يَغْتَسِلَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ (رواه الترمذى)
Artinya : “Rosulullah SAW bersabda, “Merupakan hak atas kaum muslimin mandi pada hari jum’at“ (HR. Turmudzi).
Hadits diatas diterima oleh Turmudzi melalui dua sanad :
· Pertama : Dari Ali bin Hasan Al-Kufi, dari Abu Yahya bin Ibrahim At-Taimi, dari Yazid bin Ziyad, dari Abdurrahman bin Ali Lailla, dari Barra bin Azib dari Rosulullah SAW.
· Kedua : Dari Ahmad bin Mani, dari Hasim, dari Yazid bin Ziyad dari Abdurrohman bin Abi Laila, dari Barra bin Azib, dari Rosulullah SAW.
Rawi dalam sanad pertama terpercaya, kecuali Abu Yahya bin Ibrahim At-Taimi, yang lemah hafalannya karena itu, hadits yang diriwayatkan oleh sanad kedua juga dipandang dhaif. Kedua hadits itu (karena ada dua sanad, harus dihitung dua hadits), saling menguatkan, sehingga masing-masingnya naik menjadi hasan lighairih.
C. Hadits Daif
Hadits daif menurut bahasa berarti hadits yang lemah, yakni para ulama memiliki dugaan yang lemah (keci atau rendah) tentang benarnya hadits itu berasal dari Rasulullah SAW.
Para ulama memberi batasan bagi hadits daif :
Artinya :
“Hadits daif adalah hadits yang tidak menghimpun sifat-sifat hadits sahih, dan juga tidak menghimpun sifat-sifat hadits hasan.”
Jadi hadits daif itu bukan saja tidak memenuhi syarat-syarat hadits sahih, melainkan juga tidak memenuhi syarat-syarat hadits hasan. Pada hadits daif itu terdapat hal-hal yang menyebabkan lebih besarnya dugaan untuk menetapkan hadits tersebut bukan berasal dari Rasulullah SAW.
Hadits Dha’if dikelompokkan sebagai berikut :
v Pada Sanad, Dha’if karena tidak bersambung sanadnya.
1. Hadits Munqathi’
Yaitu hadits yang gugur sanadnya disatu tempat atau lebih atau pada sanadnya disebutkan nama seseorang yang tidak dikenal namanya.
Contoh :
كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَادَخَلَ الْمَسْجِدَقَالَ : لبِسْمِ للهِ وَالصَّلاَةُوَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ. اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ ذُنُوْبِيْ وَافْتَحْ لِيْ اَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.
“Karena Rosulullah SAW, apabila masuk masjid memanjatkan do’a “ Dengan nama Allah, sholawat dan salam atas Rosulullah, ya Allah! Ampunilah dosa-dosaku dan bukalah pintu rahmat untukku“.
2. Hadits Mu’alaq
Yaitu hadits yang rowinya digugurkan seorang atau lebih awal sanadnya secara berturut-turut.
Contoh :
اَللهُ اَحَقُ اَنْ يُسْتَحْيَ مِنَ النَّاسِ
“Allah itu lebih berhak untuk dijadikan tempat mengadu malu dari pada manusia“.
3. Hadits Mursal
Yaitu hadits yang gugur sanadnya setelah tabi’in.
Hadits Mursal ada 2 macam , yaitu : Mursal Al-Jali dan Mursal Al-Khafi.
4. Hadits Mu’dhal
Yaitu hadits yang gugur dua sanadnya atau lebih ,secara berturut-turut.
Contoh:
لِلْمَمْلُوْكِ طَعَامُهُ وَكِسْوَتُهَ
“Bagi budak itu ada hak makanan dan pakaian“.
5. Hadits Mudallas
Yaitu khadits yang diriwayatkan menurut cara yang diperkirakan, bahwa hadits itu tiada bernada .
Bila rawi yang meriwayatkan hadits dari seorang yang pernah ketemu dia, tetapi rawi tersebut tidak pernah mendengar hadits dari padanya maka itu disebut Al-Isnad.
Contohnya ialah hadits Ibu Umar r.a
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلعم : إِذَانَعِسَ اَحَدُكُمْ فِىْ مَجْلِسِهِ يَوْمَ الْجُمْعَةِ فَلْيَتَحَوَّلْ إِلَى غَيْرِهِ (رواه ابوداود).
“Rasulullah SAW bersabda “bila salah seorang kamu mengantuk diatas tempat duduknya pada hari jum’at hendaknya ia bergeser ketempat lain”.
v B. Dha’if karena tiadanya syarat adil
1. Hadist maudhu’
Yaitu hadist yang dibuat-buat oleh seorang (pendusta) yang ciptaan ini dinisbatkan kepada rasullah secara paksa dan dusta, baik disengaja maupun tidak.
Contohnya:
اَلنَّظَرُإِلَى الْوَجْهِ الْجَمِيْلِ صَدَقَةَ
“Melihat wajah cantik termasuk ibadah“.
2. Hadits Matruk dan Hadits Mungkar
“Hadits Martuk ialah hadits yang diriwayatkan oleh seorang yang tertuduh dusta atau nampak kefasihanya, baik pada perbuatan atau pada perkataanya atau orang yang banyak lupa atau banyak ragu“.
Contohnya, hadits yang diriwayatkan Ibnu ‘Adyy.
Sedangkan Hadits Mungkar adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang yang lemah (perawi yang dhaif) yang bertentangan dengan periwayatanya orang kepercayaanya”.
v Dha’if karena tiadanya dhabit
1. Hadist Mudroj
اَلْحَدِيْثُ الَّذِيْ يَطَّلِعُ فِيْهِ عَلَى زِيَادَةِ لَيْسَتْ مِنْهُ
“Hadits yang menampilkan (redaksi) tambahan, padahal bukan (bagian dari) hadist”.
Contohnya :
اَسْبِغُواالْوُضُوْءَ وَيْلٌ لِلاَعْقَابِ مِنَالنَّارِ
Pada hadits tersebut kalimat Asbighulal-Wudhu’a adalah kalimat Abu Hurairoh sendiri.
2. Hadist Maqlub
Contoh hadits maqlub ini yang dimatanya adalah hadits riwayat muslim, sebagai berikut
..... وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍاَخْفَاهَاحَتَّى لاَتَعْتَمُ يَمِيْنُهُ مَاتَنْفَقُ شِمَالُهُ
Padahal seharusnya adalahحَتَّى لاَتَعْلَمُ شِمَالُهُ مَاتَنْفَقُ يَمِيْنُهُ sebagai mana terdapat shahih Bukhori, Muwattitha’ dan selain keduanya .
3. Hadits Mudhtarib
Contoh hadits mudhtarib pada matan, seperti hadits dari Anas r.a ia berkata,
اَنَّ النَّبِىَّ (ص) وَاَبَابَكْرٍوَعُمَرَفَكَانَوْايَفْتِحُوْنَ الْقِرَاءَةَبِالْحَمْدُلِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
4. Hadits Mushahhaf dan Muharrof
Hadist Mushahhaf yaitu :
“Terjadinya perubahan redaksi hadits dan maknanya“
Contohnya hadits Abu Ayyub Al Anshary : Bahwasanya Nabi SAW bersabda
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَاَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الذَّهْرِ.
Perkataan settan yang artinya Enam oleh Abu Bak Al shauly dirubah menjadi syai-an yang berarti sedikit. Dengan demikian rusaklah maknanya.
Sedangkan hadits Mukharraf yaitu :
Hadits yang perbedaanya terjadi disebabkan karena perubahan syakal kata dengan masih tetapnya bentuk tulisanya”.
Contohnya
رُمِيَ أُبَي يَوْمَ اْلاَخْزَانِ عَلَى اكْحُلِهِ ...
“Ubay (bin Ka’ab) telah dihujani panah pada perang Ahzab mengenai lenganya .….”
Ghandar mentahrijkan kata Ubayy pada hadits tersebut dengan Abi (artinya bapak) padahal sesungguhnya Ubay (yakni Ubay Ibn Ka’ab).
v Dha’if karena kejanggalan dan kecacatan
1. Hadits Syadz
Adalah hadits yang diriwatkan oleh orang yang Maqbul, akan tetapi bertentangan (matannya) dengan periwayatan dari orang yang kualitasnya lebih utama“.
Contohnya
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَوْمُ عَرَفَةَوَاَيَّامُ التَّشْرِ يْقِ اَيَّامُ اَكْلٍ وَشُرْبٍ (رواه موسى بن على).
Artinya :
“Rosulullah bersabda “Hari Arofah dan hari Tasyrik adalah hari makan dan minum“.
2. Hadits Mu’allal
Yaitu hadits yang diketahui ‘illatnya setelah dilakukan penolehan dan penyelidikan meskipun pada lahirnya nampak selamat (dari cacat) “.
Contohnya adalah hadits Ya’la Ibn ‘Ubaid :
اَلْبَيْعَانِ بِالْخِيَارِمَالَمْ يَتَفَرَّقَا
“Si penjual dan si pembeli boleh memilih, selama belum berpisahan“.
v Dha’if dari Segi Matan
1. Hadits Mauquf
Adalah hadits yang diriwayatkan dari para sahabat, baik berupa perkataan, perbuatan atau taqrirnya. Periwayatannya baik bersambung atau tidak.
Contohnya :
يَقُوْلُ : إِذَااَمْسَيْتَ فَلاَتَنْتَظِرِالصَّباَحَ وَإِذَااَصْبَحْتَ فَلاَتَنْتَظِرِالْمَسَاءَ، وَخُذْمِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
“Konon Ibnu Umar r.a berkata : “Bila kau berada diwaktu sore jangan menunggu datangnya pagi hari dan bila kau berada dipagi hari jangan menunggu datangnya sore hari. Ambilah dari waktu sehatmu persediaan untuk waktu sakitmu dan dari waktu hidupmu untuk persediaan matimu“ (Riwayat Bukhori).
2. Hadits Maqthu’
Adalah hadits yang diriwayatkan dari tabi’in dan disandarkan kepadanya baik perkataan maupun perbuatannya.
Dengan kata lain, bahwa Hadits Maqthu’ adalah perkataan atau perbuatan tabi’in.
Contohnya : Perkataan Haram bin Jubair, seorang tabi’in besar.
اَلْمُؤْمِنُ إِذَاعَرَفَ رَبَّهُ عَزَّوَجَلَّ أَحَبَّهُ، وَإِذَااَحَبَّهُ اَقْبَلَ إِلَيْهِ
“Orang mukmin itu bila telah mengenal Tuhannya Azza Wajalla niscaya ia mencintainya, dan bila ia mencintainya Allah menerimanya”
D. Kehujjahan Hadits Shahih, Hadits Hasan dan Hadits Dha’if
Dalam periwayatan hadits, sanad hadits dinyatakan memiliki kedudukan yang sangat penting. Hadits yang dapat dijadikan hujaf (hujjah) hanyalah hadits yang sanadnya shahih.
Para Ulama’ ahli hadits dan sebagian ulama’ ahli ushul serta ahli Fiqih sepakat menjadikan hadits shahih sebagai hujjah yang wajib beramal dengannya.
Sedangkan hadits hasan jumhur mengatakan bahwa kehujjahan hasan seperti hadits shahih, namun derajatnya tidak sama.
Adapun hadits dhaif adakalanya tidak bisa tolerir (la yujbaru) kedhaifannya, misalnya karena kemaudhu’annya. Ada juga yang bisa tertutupi (yujbaru) kedhaifannya (karena ada faktor lainnya).
Untuk yang pertama tersebut, berdasarkan kesepakatan ulama’ hadits, tidak diperbolehkan mengamalkannya baik dalam penerapan hukum-hukun, akidah maupun fadhail al-amal.
Sementara untuk jenis yang kedua ada yang berpendapat menolak secara mutlak baik untuk penerapan hukum, akidah maupun fadhail al-amal. Dengan alasan karena hadits dhaif ini tidak dapat dipastikan datang dari Rosulullah SAW.
BAB III
PENUTUPAN
A. KESIMPULAN
Penentuan tinggi rendahnya tingkatan suatu hadits bergantung kepada tiga hal yaitu jumlah rawi, keadaan (kualitas) rawi, dan keadaan matan.
Kedudukan kualitas hadits erat sekali kaitannya dengan dapat atau tidak dapatnya suatu hadits dijadikan hujjah (hujjah, dalil) agama.
Pembagian hadits dilihat dari diterima–tidaknya dibagi menjadi tiga yaitu : hadits shahih, hadits hasan, hadits dhaif.
B. KRITIK DAN SARAN
Demikianlah makalah ini kami buat, sebagai insan yang jauh dari kesempurnaan tentunya kami berusaha semaksimal mungkin demi kebaikan makalah kami ini, untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun (konstruktif) sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini dan semoga dapat bermanfaat bagi kita semua, Amin.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Muhammad, Mudzakir, Ulumul Hadits, CV. Pustaka Setia, Semarang : 2000
Ismail, Syuhudi, kaedah keshahihan sanad hadits telaah kritis dan tinjauan dengan pendekatan ilmu sejarah, PT. Bulan Bintang, Jakarta : 1995.
Rahman Fatchur, Ikhtisar Musthalahul Hadits, PT. Al Ma’arif, Bandung : 1974
Suparta, Munzir, Ilmu Hadits, PT. Raja Grafindo, Jakarta : 2003.
Fatchurrahman, ikhtisar musthalahul hadits, Bandung : PT Al-Ma’arif 1974.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar